Hujan Deras Tak Kunjung Usai, Longsor Susulan Hancurkan Bagian Belakang Rumah Warga di Bayah Timur
LEBAK, BeritaKilat.com - Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Lebak sejak Sabtu (10/1/2026) sore hingga Minggu (11/1/2026) kembali memicu bencana tanah longsor di Kampung Sukajaya, Desa Bayah Timur, Kecamatan Bayah.
Kejadian ini membuat warga yang tinggal di bantaran Sungai Cimadur kembali dihantui rasa cemas akan adanya longsor susulan yang lebih besar.Hujan yang turun tanpa henti menyebabkan area bagian belakang rumah warga yang berbatasan langsung dengan jurang Sungai Cimadur amblas.
Salah satu warga terdampak yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Lebak, Deni Ismayadi, mengonfirmasi bahwa dapur dan kamar mandi rumahnya kembali terbawa longsor.
"Hujan mengguyur sejak Sabtu sore sampai hari ini masih berlangsung. Akibatnya, bagian belakang rumah saya dan rumah tetangga kembali longsor," ujar Deni, Minggu (11/1/2026).
Sedikitnya tercatat lima rumah warga di Kampung Sukajaya mengalami kerusakan. Empat di antaranya, yakni rumah milik Deni Ismayadi, Nasrudin, Abah Enjen, dan Asdi mengalami rusak berat pada bagian belakang. Sementara rumah milik Amyani mengalami rusak ringan.
Bencana ini merupakan kelanjutan dari ancaman longsor yang sebelumnya sempat terjadi pada akhir Desember 2025 dan tahun 2022 lalu.
Warga di Kampung Tenjolaya, Desa Bayah Timur, juga merasakan kekhawatiran serupa.Ucup Supriadi, warga Kampung Tenjolaya sekaligus Ketua PPWI Lebak Selatan, menyatakan bahwa tanda-tanda pergerakan tanah di tebing perkampungan mereka sudah mulai terlihat kembali.
"Tahun 2022 ada empat rumah yang longsor. Saat ini kami kembali terancam karena bagian tebing sudah menunjukkan tanda-tanda akan amblas lagi," kata Ucup.
Desak Pemerintah Bangun Tembok Penahan Tebing (TPT)
Meski dalam kondisi berbahaya, warga memilih tetap bertahan di bagian depan rumah mereka karena tidak memiliki tempat tinggal alternatif. Warga pun mendesak pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan tindakan nyata.
Masyarakat menuntut pembangunan Tembok Penahan Tebing (TPT) atau tanggul permanen untuk mengunci pergerakan tanah.Pasalnya, meski sudah dilaporkan sejak kejadian tahun 2022, usulan pembangunan pengaman tebing tersebut hingga kini belum terealisasi.
"Kami mewakili warga meminta pemerintah segera turun tangan. Kami mohon ada tindakan nyata, karena setiap kali hujan turun, kami selalu dihantui rasa takut rumah kami akan habis terbawa longsor," tegas Deni. (Dhee)

Posting Komentar