Memahami Prinsip 'Sami'na Wa Atho'na': Pilar Utama Ketaatan Dan Keteguhan Iman Seorang Muslim
LEBAK, BeritaKilat.com – Dalam ajaran Islam, konsep ketaatan merupakan pondasi yang menjaga kokohnya bangunan iman seorang hamba. Salah satu prinsip yang paling fundamental adalah "Sami’na wa Atho’na" yang berarti "Kami dengar dan kami taat".
Prinsip ini bukan sekadar kata-kata, melainkan representasi dari totalitas penyerahan diri kepada sang Khaliq.
Secara etimologi, Sami’na mengandung makna mendengar dengan penuh pemahaman dan penerimaan, sementara Atho’na adalah perwujudan nyata dalam bentuk tindakan.
Gabungan keduanya menciptakan karakter Muslim yang responsif terhadap kebenaran tanpa adanya keraguan.
Landasan Konstitusi Langit
Al-Qur'an secara tegas menyebutkan bahwa sikap ini adalah ciri utama orang-orang yang beruntung. Dalam Surah An-Nur ayat 51, Allah SWT berfirman bahwa jawaban orang orang mukmin ketika dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menetapkan hukum adalah dengan berucap 'Sami'na wa Atho'na'.
"Dan mereka mengatakan: 'Kami dengar dan kami taat.' (Mereka berdoa): 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali'." (QS. Al-Baqarah: 285).
Ketaatan Berjenjang dan Batasannya
Dalam perspektif hadis sahih, Rasulullah SAW menekankan pentingnya mendengar dan taat, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Namun, Islam juga memberikan ramburambu yang jelas bahwa ketaatan kepada makhluk, termasuk pemimpin, terbatas selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.
Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ditegaskan bahwa "Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf".
Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang moderat, yang mengedepankan keteraturan sosial tanpa mengorbankan prinsip-prinsip ketauhidan.
Relevansi di Era Modern
Di tengah arus informasi yang seringkali membingungkan, prinsip ini menjadi kompas bagi umat. Menerapkan Sami'na wa Atho'na berarti menundukkan ego dan hawa nafsu dibawah bimbingan wahyu. Ini adalah kunci untuk mencapai ketentraman hati dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan memegang teguh prinsip ini, seorang Muslim tidak akan mudah terombangambing oleh opini yang menyesatkan, melainkan tetap tegak di atas landasan syariat yang lurus demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Rubrik: Religi / Opini
Penulis: Redaksi
Editor: Abdul Kabir

Posting Komentar