Penutupan Tradisi “Dibuat Bareng” di Kasepuhan Cisitu, Dorong Irigasi dan Semangat Gotong Royong
LEBAK, BeritaKilat.com – Rangkaian tradisi panen serentak atau “dibuat bareng” resmi ditutup pada Minggu, 12 April 2026, di Pendopo Adat Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh adat, serta ratusan masyarakat tani.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Cibeber, Kapolsek Cibeber, perwakilan Koramil Bayah/Cibeber, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak, Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Ketua Komisi III DPRD Lebak, perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Kepala Desa Kujangsari, Kepala Desa Situmulya, jajaran kasepuhan di wilayah wewengkon Cisitu, Kepala PD AMAN Banten Kidul, Kepala Puskesmas Cisisungan, anggota JBB dari sejumlah kecamatan, serta ratusan petani yang terdiri dari bapak, ibu, hingga pemuda tani.
Dalam kesempatan tersebut, Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda yang akrab disapa Abah Uta, menyampaikan aspirasi penting dari masyarakat tani. Ia menekankan harapan agar pemerintah dapat segera membangun irigasi di wilayah Pasir Katimus, Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber. Menurutnya, pembangunan irigasi tersebut sangat dibutuhkan untuk mengairi ratusan hektare lahan persawahan yang selama ini belum tersentuh bantuan pemerintah.
“Harapan kami sederhana, agar irigasi di Pasir Katimus bisa dibangun sehingga para petani tidak lagi kesulitan air saat musim tanam,” ujar Abah Uta.
Selain itu, dalam momen simbolis, pihak kasepuhan juga menyerahkan benih padi lokal kepada Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak dan perwakilan Bidang Kebudayaan sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal dan ketahanan pangan berbasis tradisi.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Lebak, H. Sukanta, mengajak seluruh tamu undangan dan masyarakat untuk bersama-sama membantu warga adat Cisitu yang terdampak musibah kebakaran beberapa hari sebelumnya. Ia menginisiasi penggalangan dana secara sukarela dari para undangan, dengan kisaran donasi mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta.
Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membeli material bangunan, yang kemudian akan dimanfaatkan dalam pembangunan kembali rumah warga secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Ajakan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Lebak, Junaedi Ibnu Jarta. Ia menilai langkah BPBD tersebut sebagai upaya positif dalam menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat adat.
“Ini adalah bentuk nyata kepedulian dan kebersamaan. Kami sangat mendukung dan mengapresiasi inisiatif ini,” ujarnya. Junaedi juga turut berpartisipasi dengan memberikan bantuan dana untuk pembangunan rumah tersebut.
Di sisi lain, Kepala Desa Kujangsari, Sudarwan, menyampaikan rasa terima kasih kepada BPBD Kabupaten Lebak atas kepedulian dan inisiatif yang dilakukan. Ia berharap proses pembangunan kembali rumah warga terdampak dapat segera terealisasi.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan semua pihak. Semoga pembangunan rumah ini bisa segera terwujud dan meringankan beban warga,” katanya.
Penutupan tradisi “dibuat bareng” ini tidak hanya menjadi simbol berakhirnya masa panen, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta komitmen dalam menjaga kearifan lokal di tengah masyarakat adat Kasepuhan Cisitu. (Red)

Posting Komentar