Dari Kangkung Sawah ke Panggung Kehidupan: Jejak Keteguhan Regen Abdul Aris
Sebuah Kisah Sang Pejuang Hidup
Di sebuah sudut kampung yang tak pernah tercatat dalam peta ambisi siapa pun, lahirlah seorang bayi lelaki yang kelak dikenal dengan nama Regen Abdul Aris. Namun pada pagi itu, ia hanyalah seorang anak dari keluarga yang untuk sekadar bertahan hidup pun harus menghitung hari dengan cermat.
Ia lahir dalam keadaan serba terbatas. Bagi keluarganya, makan enak bukanlah rutinitas, melainkan peristiwa. Jika ingin merasakan daging ayam, mereka harus menunggu musim panen tiba—itu pun belum tentu hasilnya cukup. Tiga bulan sekali menjadi jarak yang biasa untuk menikmati lauk istimewa.
“Kalau ingin makan enak, biasanya menunggu tetangga hajatan dulu,” kenangnya suatu ketika, dengan senyum tipis yang menyimpan lebih banyak sejarah daripada tawa.
Selebihnya, hari-hari diisi dengan kangkung yang dipetik dari sawah. Direbus sederhana. Kadang hanya dengan garam, kadang tanpa lauk sama sekali. Namun bagi keluarga kecil itu, kesederhanaan bukan alasan untuk menyerah.
Cobaan tak berhenti pada kemiskinan.
Beberapa bulan setelah Regen lahir, ayahnya meninggal dunia. Ia tak pernah mengenal sosok lelaki yang seharusnya menjadi pelindung pertamanya. Tak ada kenangan, tak ada potret yang tersimpan dalam ingatan. Hanya cerita-cerita yang disampaikan orang lain.
“Saya yatim bahkan sebelum tahu arti kehilangan,” ujarnya pelan.
Sejak saat itu, ibunya memikul beban sendirian. Seorang perempuan tangguh yang tak bisa membaca dan menulis, namun memiliki ketabahan yang tak terukur. Ia bekerja sebagai tukang pijat dan urut keliling, berjalan dari rumah ke rumah demi menyambung hidup. Ia sering pergi sejak pagi, pulang ketika malam hampir habis.
Rumah mereka sederhana, bahkan bisa dibilang nyaris tak layak. Namun dari rumah itulah Regen belajar tentang arti perjuangan. Ia tumbuh dalam keterbatasan, tetapi tidak dalam kekosongan nilai. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya tak pernah mengeluh meski hidup terasa berat. Dari perempuan itulah ia mewarisi keteguhan.
Kemiskinan memang membatasi pilihan, tetapi tidak membatasi harapan.
Di tengah segala kekurangan, Regen kecil mulai memahami bahwa hidup tak akan berubah jika ia hanya menunggu. Ia belajar menerima keadaan, tetapi tidak berdamai dengan nasib. Ia percaya, sekeras apa pun hidup menguji, selalu ada ruang untuk bangkit.
Kisahnya bukan sekadar cerita tentang anak yatim dari keluarga miskin. Ini adalah kisah tentang daya tahan. Tentang seorang anak yang tumbuh tanpa sosok ayah, dengan ibu yang harus berjuang sendirian, tetapi tidak kehilangan arah. Tentang bagaimana keterbatasan justru menjadi fondasi karakter.
Subang mungkin hanya menjadi titik awal di peta hidupnya. Namun dari tanah sederhana itulah lahir semangat yang tak sederhana.
Regen Abdul Aris membuktikan, bahwa seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia memulai, melainkan oleh seberapa kuat ia bertahan dan melangkah.
Karena pada akhirnya, bukan kemiskinan yang membentuk masa depan—melainkan keberanian untuk terus berjalan, meski dunia tak pernah memberi jalan yang mudah. (***)


Posting Komentar