Risiko Stok Bahan MBG Menumpuk Saat Libur Sekolah, Aktivis Pemuda Lebak Desak Mitigasi Sistemik
LEBAK, BeritaKilat.com — Masa libur sekolah yang seharusnya menjadi momen istirahat bagi para siswa justru menghadirkan tantangan logistik serius bagi pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebak. Minimnya fleksibilitas dalam skema pendistribusian bahan baku makanan dinilai memicu risiko penumpukan stok hingga ancaman kasus keracunan makanan massal akibat penurunan kualitas bahan.
Permasalahan muncul akibat jadwal pengiriman bahan makanan segar dari pihak penyedia yang tetap berjalan sesuai kuota reguler, meskipun aktivitas belajar-mengajar di sekolah sedang diliburkan. Kondisi ini diperparah oleh aturan ketat di mana bahan baku yang telah dikirim ke dapur pengelola bersifat non-returnable atau tidak dapat dikembalikan ke pihak pemasok.
Akibatnya, bahan baku yang bersifat mudah rusak (perishable) seperti daging, ayam, sayuran, dan buah-buahan terpaksa disimpan dalam jangka waktu lama hingga sekolah kembali aktif.
Menanggapi kondisi tersebut, Aktivis Pemuda Lebak, Dandu, menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, skema distribusi saat ini tidak mempertimbangkan realita teknis dan kapasitas fasilitas di lapangan.
"Tidak semua dapur pengelola MBG di daerah memiliki fasilitas cold storage atau freezer berkapasitas besar yang sesuai standar. Menahan bahan makanan segar dalam rentang waktu lama tanpa rantai dingin yang memadai sangat berbahaya. Bahan bisa membusuk, terkontaminasi bakteri, dan nutrisinya turun drastis," ujar Dandu saat dimintai keterangan.
Dandu menegaskan bahwa jika bahan baku yang kualitasnya sudah menurun tersebut tetap diproses dan dimasak saat siswa masuk sekolah kembali—hanya demi menghindari kerugian material—maka risiko keracunan makanan massal pada anak-anak menjadi sangat tinggi.
"Keselamatan dan kesehatan anak-anak sekolah harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai program yang tujuannya meningkatkan gizi anak justru membahayakan mereka hanya karena kekakuan sistem distribusi," tegasnya.
Atas kondisi kasuistik di Kabupaten Lebak ini, Dandu mendesak pihak pengelola pusat maupun dinas terkait untuk segera melakukan evaluasi dan mitigasi sistemik. Menurutnya, sistem distribusi MBG tidak bisa disamaratakan antara hari aktif sekolah dan masa libur.
Ia mendorong hadirnya mekanisme fleksibilitas dalam penyesuaian kontrak dengan pihak ketiga atau pemasok, seperti penerapan sistem penundaan pengiriman (hold delivery) atau pengalihan alokasi bahan baku selama masa liburan. Langkah ini dinilai krusial agar makanan yang diterima para siswa nantinya tetap terjamin aman, segar, dan layak konsumsi. (Dhee)

Posting Komentar