Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang “Panggung Rakyat”: Merawat Sejarah Islam melalui Seni, Masjid, dan Kebudayaan
KOTA TANGERANG, BeritaKilat.com — Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang bertajuk “Panggung Rakyat” menjadi ruang kebudayaan yang mempertemukan masyarakat, seniman lokal, dan masjid untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat sejarah perjalanan Islam di Nusantara.
Festival yang diketuai Midyani ini berkolaborasi dengan Masjid Kali Pasir, Masjid Agung Al-Ittihad, dan Masjid Raya Al-Azhom. Kegiatan tersebut mengangkat peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, silaturahmi, dan kehidupan sosial, serta seni sebagai media untuk menyampaikan nilai keagamaan dan sejarah kepada masyarakat.
Melalui keterlibatan seniman lokal, seperti Samsaka Band dan Akamsi Band, Festival Maulid Nusantara VII menghadirkan sejarah dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat, melalui musik, seni pertunjukan, tradisi, dan kebudayaan. Tajuk “Panggung Rakyat” menegaskan bahwa kebudayaan merupakan milik bersama yang dapat melibatkan masyarakat, komunitas, tokoh agama, seniman, dan generasi muda.
Midyani berharap kolaborasi dalam festival ini dapat terus diperluas dengan melibatkan lebih banyak masjid di seluruh Kota Tangerang. Menurutnya, jika masjid, seniman, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama, Festival Maulid Nusantara tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga dapat berkembang menjadi gerakan kebudayaan dan peradaban.
“Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga membaca kembali perjalanan peradaban Islam di Nusantara. Dari masjid kita membangun persaudaraan, dari seni kita merawat kebudayaan, dan dari Maulid kita meneruskan keteladanan Rasulullah SAW,” ujar Midyani.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat menjadi tonggak sejarah baru bagi Kota Tangerang dalam memperkuat identitas sebagai kota religius yang kaya akan seni dan budaya. Festival ini diharapkan mampu menunjukkan wajah Islam yang ramah, berbudaya, guyub, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Akhlakul Karimah.
“Kalau masjid bersatu, seniman bergerak, dan rakyat ikut menjaga, maka Maulid bukan sekadar perayaan—ia bisa menjadi sejarah,” pungkas Midyani.
Dari masjid, nilai diwariskan.
Dari seni, sejarah diceritakan.
Dari budaya, identitas dijaga.
Dari rakyat, peradaban terus dilanjutkan.
Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang — “Panggung Rakyat”
Merawat Tradisi • Menghidupkan Seni • Mengenang Sejarah • Menyambung Peradaban. (Wal)

Posting Komentar