Suatu Malam di Sudut Remang Balong Rancalentah
Oleh : Kantaw Kanyutajudin (KK)
Rangkasbitung, Temaram lampu malam menghiasi setiap sudut Balong Rancalentah, Rangkasbitung. Angin berembus pelan, menggoyangkan bayangan pepohonan yang memantul di permukaan air. Malam semakin larut, tetapi kawasan itu justru terasa hidup. Suara tawa para remaja bercampur dengan alunan musik dari warung kopi di kejauhan.
Aku duduk sendiri di sebuah bangku taman, menikmati suasana malam yang perlahan berubah menjadi sunyi.
Tiba-tiba seorang perempuan setengah baya menghampiriku. Gaun hitam yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan anggun. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk membuat siapa pun menoleh saat ia melintas.
"Mau ditemani, Aa?" katanya dengan logat Sunda khas Rangkasbitung.
Aku terdiam sesaat.
Matanya menatap lurus, seolah sudah terbiasa membaca isi kepala lelaki yang ditemuinya.
"Namaku Meri," lanjutnya sambil tersenyum tipis.
Aku mempersilahkannya duduk. Aroma parfum yang lembut ikut terbawa angin malam. Dari dekat, guratan usia di wajahnya terlihat jelas, tetapi justru membuatnya tampak matang dan penuh cerita.
"Kok sendirian?" tanyanya.
"Lagi cari suasana saja."
Meri tertawa kecil.
"Biasanya yang bilang cari suasana itu sebenarnya lagi cari pelarian."
Aku ikut tersenyum. Ada benarnya juga.
Percakapan kami mengalir begitu saja. Dari cerita tentang Rangkasbitung tempo dulu, pasar yang kini semakin sepi, hingga kisah-kisah kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Sesekali Meri menyibakkan rambutnya yang tertiup angin. Tatapannya tajam, namun menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
"Aa tahu?" katanya pelan.
"Tahu apa?"
"Banyak orang datang ke tempat seperti ini bukan karena bahagia. Mereka datang karena ingin melupakan sesuatu."
Aku memandang wajahnya.
"Lalu Teh Meri sendiri sedang melupakan apa?"
Untuk pertama kalinya senyumnya memudar.
Ia menatap permukaan balong yang tenang.
"Masa muda."
Jawaban itu membuatku terdiam.
Beberapa saat kemudian, ia kembali berbicara.
"Kalau boleh jujur, Aa, saya sebenarnya capek."
"Capek kenapa?"
"Capek jadi kuat setiap hari."
Nada suaranya berubah. Tidak lagi terdengar seperti perempuan yang sedang menggoda seorang lelaki di malam hari. Yang terdengar kini hanyalah seorang manusia yang lelah menghadapi hidup.
"Saya punya anak yang masih sekolah. Kebutuhan hidup terus bertambah. Dulu saya pernah kerja di toko, pernah juga bantu-bantu di warung makan. Tapi penghasilannya tidak cukup."
Ia menarik napas panjang.
"Dari situlah semuanya berubah."
Aku tetap diam mendengarkan.
"Sekarang saya hidup dari malam ke malam. Dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Bukan karena saya bangga. Bukan karena saya suka. Tapi karena besok anak saya harus tetap sekolah. Harus tetap makan."
Malam terasa lebih dingin.
Lampu-lampu yang memantul di permukaan balong seperti ikut menyaksikan pengakuan yang selama ini dipendamnya sendirian.
"Kadang saya merasa jenuh," lanjutnya. "Kadang saya merasa sangat berdosa. Kalau pulang menjelang subuh, saya sering duduk sendiri di teras rumah. Saya bertanya, kenapa hidup harus membawa saya sampai ke titik ini?"
Ia tersenyum pahit.
"Tapi mau bagaimana lagi? Tagihan tidak pernah berhenti datang. Uang sekolah tidak bisa dibayar dengan air mata. Perut anak saya tidak bisa kenyang hanya dengan penyesalan."
Aku menunduk.
Sulit mencari kata-kata ketika kenyataan berbicara lebih keras daripada nasihat apa pun.
"Teh pernah ingin berhenti?" tanyaku pelan.
"Setiap hari."
"Lalu kenapa tidak berhenti?"
Ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih seperti luka yang dipaksa berdamai dengan keadaan.
"Karena hidup tidak memberi banyak pilihan kepada orang seperti saya."
Malam semakin larut. Pengunjung mulai berkurang. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang sesekali terdengar.
Di hadapanku kini bukan lagi sosok perempuan dengan gaun menggoda yang menawarkan teman untuk menghabiskan malam. Yang kulihat adalah seorang ibu yang sedang berjuang melawan kerasnya kehidupan.
Seorang ibu yang setiap hari harus menukar harga dirinya demi memastikan anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
"Saya cuma punya satu harapan," katanya sambil memandang jauh ke arah lampu kota.
"Apa itu?"
"Semoga anak saya nanti tidak perlu menjalani hidup seperti ibunya."
Aku terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada seluruh cerita yang telah ia sampaikan.
Tak lama kemudian Meri berdiri. Ia merapikan gaunnya dan menatapku dengan senyum yang kali ini terlihat tulus.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan."
"Bukannya Teh yang menemani saya?"
Ia tersenyum.
"Mungkin kita sama-sama sedang menemani kesepian masing-masing."
Lalu ia melangkah menjauh, menyusuri jalan setapak yang remang. Sosoknya perlahan menghilang ditelan gelap malam Balong Rancalentah.
Aku tetap duduk beberapa saat.
Memandangi riak air yang tenang di bawah cahaya lampu yang mulai redup.
Malam itu aku belajar bahwa tidak semua perempuan yang berdiri di sudut-sudut gelap kota sedang menjual kenikmatan. Sebagian dari mereka sedang menjual sisa-sisa harapan agar keluarganya tetap bertahan hidup.
Dan kadang, di balik senyum yang terlihat menggoda, tersimpan doa panjang seorang ibu yang berharap anaknya kelak tidak perlu mengenal jalan terjal yang pernah ia lalui.
Bersambung......

Posting Komentar