Pasar Rangkasbitung Kian Lengang, Jeritan Pedagang: Menunggu Orang Melintas Saja Sulit
LEBAK,BeritaKilat.com - Dilema berat tengah melanda para pedagang di Pasar Rangkasbitung. Belakangan ini, situasi di pusat perbelanjaan tradisional tersebut tampak begitu mati suri. Keluh kesah yang mencuat bukan lagi sekadar penurunan pendapatan bulanan, melainkan hilangnya lalu-lalang pembeli yang kini sudah mencapai tahap yang sangat mencemaskan.
Kondisi miris ini mendadak jadi buah bibir netizen setelah seorang pedagang membagikan potret sunyinya suasana pasar melalui platform media sosial. Lewat unggahan tersebut, ia mengisahkan betapa sepinya pasar kebanggaan warga Kabupaten Lebak itu.
"Jangankan berharap ada yang belanja, melihat orang berjalan lewat di depan toko sejam sekali saja rasanya sulit sekarang," demikian bunyi curahan hati pedagang tersebut dalam postingannya.
Sontar saja, unggahan itu memicu atensi luas dari masyarakat. Banyak yang mengamini bahwa atmosfer Pasar Rangkasbitung memang merosot tajam jika disandingkan dengan situasi beberapa tahun silam. Gang-gang pasar yang dulunya sesak oleh pengunjung kini tampak melompong. Bahkan, sejumlah pemilik kios memilih menyudahi aktivitas dagangnya lebih awal akibat nihilnya transaksi.
Imbas dari sepinya pasar, para pedagang mengaku omzet mereka merosot drastis. Tak jarang, uang yang dibawa pulang setelah seharian menjaga lapak hanya berkisar belasan hingga puluhan ribu rupiah saja.
"Kewajiban membayar retribusi, listrik, dan modal dagang tetap berjalan, sementara pembeli hampir tidak ada. Untuk tetap bertahan di sini rasanya makin mencekik," tutur pedagang lain dengan nada pasrah.
Sorotan Tajam untuk Pemkab Lebak
Mandeknya aktivitas ekonomi ini akhirnya mengarahkan kritik tajam kepada Pemerintah Kabupaten Lebak, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bidang pengelolaan pasar. Para pelaku usaha menilai pemerintah daerah belum meluncurkan tindakan nyata yang mampu mengembalikan gairah pasar tradisional.
Pihak pedagang mendesak agar pemerintah tidak sekadar rajin memungut retribusi, melainkan ikut memikirkan formula strategis demi menyelamatkan eksistensi pasar rakyat yang kian meredup.
Beberapa faktor yang dituding menjadi pemicu sepinya pengunjung antara lain:
Buruknya tata kelola dan penataan area pasar.
Minimnya agenda atau promosi kreatif yang bisa menarik massa.
Gempuran tren belanja daring (e-commerce) yang tidak diimbangi dengan digitalisasi pasar tradisional.
"Jika situasi ini terus didiamkan, para pedagang kecil lambat laun pasti bertumbangan. Pasar ini adalah urat nadi masyarakat kecil, bukan cuma sekadar deretan bangunan mati," keluh seorang pedagang dengan rasa kecewa mendalam.
Sangat disayangkan mengingat Pasar Rangkasbitung punya rekam jejak historis sebagai episentrum perekonomian warga Lebak. Namun saat ini, roda ekonomi di sana seolah melambat dan meredup. Harapan besar kini digantungkan pada kebijakan responsif pemerintah daerah sebelum keadaan menjadi makin tak terkendali.
Kini, publik menanti terobosan riil dari Disperindag Lebak dalam menyikapi jeritan para pedagang. Sebab, membiarkan pasar tradisional mati tanpa solusi sama saja dengan mematikan mata pencaharian masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari dunia perdagangan tersebut. (Red)

Posting Komentar