Menghisap Harapan di Tepian Tabuan: Nestapa SMP Satap 2 Cukuh Balak dalam Pusaran Dana BOS
Tanggamus,BeritaKilat.com — Di tengah deburan ombak Pulau Tabuan yang memisahkan daratan dari jangkauan pengawasan, SMP Satu Atap (Satap) 2 Cukuh Balak berdiri bukan sebagai mercusuar ilmu, melainkan sebagai monumen pengabaian yang getir. Di balik angka-angka manis dalam laporan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) periode 2024-2025, tersembunyi aroma busuk yang jauh lebih tajam daripada tumpukan sampah di sudut kelasnya. Sabtu (7/03/2026)
Nuryamin, sang nakhoda sekolah negeri berakreditasi C ini, kini tengah menjadi sorotan tajam. Betapa tidak? Saat negara dengan "dermawan" mengucurkan dana sebesar Rp82.000.000 pada tahun 2024 dan kembali menggelontorkan Rp92.796.000 pada 2025, fasilitas sekolah justru tampak sedang merayakan "kematiannya" secara perlahan.
Sanitasi Mati, Anggaran Tetap Bersemi
Sungguh sebuah ironi yang puitis sekaligus menyakitkan. Dalam rincian penggunaan tahun 2024, tercatat angka Rp 12.300.000 dialokasikan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana.
Namun, tengoklah realitas di lapangan: pintu-pintu WC sekolah terkunci rapat, seolah-olah akses sanitasi adalah barang mewah yang haram dinikmati siswa. Jika dana pemeliharaan itu benar-benar mendarat di bumi Sawang Balak, mengapa jendela kelas dibiarkan menganga tanpa teralis, dan lingkungan sekolah berubah menjadi hamparan kumuh tempat sampah berserakan?
Gedung yang merupakan aset negara, tempat rahim generasi bangsa ditempa untuk mencerdaskan kehidupan, justru tampak sengaja dibiarkan terbengkalai. Pertanyaan besar pun mencuat: Ke mana rimbanya dana yang setiap tahun dikucurkan pemerintah jika perawatan rutin saja menjadi barang langka?
Ekskul yang "Gaib" dan Honor yang Menguap
Keajaiban anggaran berlanjut pada pos kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler. Pada 2024, dianggarkan Rp18.050.800, dan pada 2025 tercatat Rp11.833.000. Namun, pengakuan dari internal sekolah justru menyayat hati.
"Honor untuk kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, tidak pernah diberikan atau dibayar oleh kepala sekolah," ungkap sebuah sumber yang enggan disebut namanya demi keamanan.
Jika keringat para pendidik dan pelatih saja tega "ditelan", lalu di kantin mana uang belasan juta itu mampir?
Menanti Taring Inspektorat di Tengah "Tuli dan Buta" Birokrasi
Jauh dari jangkauan mata Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, kondisi geografis Pulau Tabuan nampaknya menjadi tameng sempurna bagi dugaan praktik "bancakan" dana negara oleh Nuryamin. Publik kini menaruh harapan besar: Jangan sampai para pejabat di daratan utama seolah-olah menjadi tuli dan buta hanya karena dipisahkan oleh lautan. Membiarkan praktik ini terus berjalan tanpa evaluasi hanya akan mempertegas kesan bahwa pengawasan di Tanggamus hanyalah macan kertas yang tak bertaring.
Inspektorat Kabupaten Tanggamus ditantang untuk segera "turun gunung". Rakyat menanti tindakan tegas, bukan sekadar basa-basi administratif atau audit di balik meja. Audit menyeluruh terhadap aliran Dana BOS SMP Satap 2 Cukuh Balak adalah harga mati. Jangan biarkan uang negara, yang sejatinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, justru habis dikunyah oleh nafsu serakah oknum yang berlindung di balik jabatan kepala sekolah.
Sebab, jika pintu WC saja bisa terkunci rapat karena rusak, jangan sampai pintu keadilan juga ikut terkunci bagi anak-anak di Cukuh Balak.(Tim)

Posting Komentar