Cerpen : Suatu Malam Dibalong Ranca Lentah
Aku masih duduk di bangku itu setelah sosok Meri menghilang di balik remang lampu jalan. Entah mengapa, kisah perempuan itu terus berputar di kepalaku.
Malam semakin larut. Balong Rancalentah mulai sepi. Hanya beberapa pengendara yang sesekali melintas memecah kesunyian.
Aku hendak beranjak pulang ketika tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Aa, terima kasih sudah mau mendengar cerita saya malam ini."
Aku tertegun.
Nomor itu jelas milik Meri.
Padahal aku tidak pernah merasa memberikan nomor telepon kepadanya.
Dengan rasa penasaran, aku membalas singkat.
"Dapat nomor saya dari mana, Teh?"
Lama tak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian muncul pesan baru.
"Di kota kecil seperti Rangkasbitung, kadang lebih mudah mencari nomor seseorang daripada mencari pekerjaan."
Aku tersenyum tipis membaca balasan itu.
Namun sesaat kemudian, sebuah pesan lain masuk.
Kali ini jauh lebih pendek.
"Kalau suatu hari Aa mendengar kabar buruk tentang saya, jangan kaget."
Jantungku seakan berdetak lebih cepat.
Aku langsung mengetik balasan.
"Maksudnya apa?"
Tak ada jawaban.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Pesan itu hanya centang satu.
Malam itu aku pulang dengan perasaan yang tidak menentu.
Ada sesuatu dalam kalimat terakhir Meri yang terasa ganjil.
Seolah ia sedang menyimpan sebuah rahasia besar.
Atau mungkin sebuah masalah yang jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan ekonomi.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, pertemuan singkat di sudut remang Balong Rancalentah ternyata bukan akhir dari cerita.
Justru mungkin baru permulaan.
Aku menatap layar ponsel beberapa saat setelah menerima pesan dari Meri.
"Kalau Aa ada waktu besok malam, temani saya ngobrol. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan."
Pesan itu singkat, tetapi cukup membuat rasa penasaranku tumbuh.
Keesokan malamnya, kami bertemu di sebuah hotel kecil di pinggiran kota. Bukan tempat yang mewah, hanya bangunan sederhana yang cukup sepi untuk menjadi tempat seseorang menyembunyikan kesedihan dari pandangan dunia.
Saat pintu kamar terbuka, Meri sudah berada di dalam.
Ia telah berganti pakaian. Gaun yang dikenakannya tampak sederhana dan ringan. Namun yang paling mencuri perhatian bukanlah penampilannya, melainkan wajahnya yang terlihat jauh lebih lelah dibanding malam ketika kami bertemu di Balong Rancalentah.
"Aa datang juga," katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk lalu duduk di kursi dekat jendela.
Untuk beberapa saat, tak ada percakapan. Hanya suara pendingin ruangan yang memenuhi ruangan.
Meri kemudian duduk di hadapanku.
Matanya menatap lurus.
"Aa tertarik sama saya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Aku tidak langsung menjawab.
Bukan karena bingung, melainkan karena aku merasa pertanyaan itu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar ketertarikan antara laki-laki dan perempuan.
"Tertarik seperti apa?" tanyaku balik.
Meri tersenyum tipis.
"Tuh kan... laki-laki biasanya langsung paham pertanyaan seperti itu."
"Tapi saya ingin dengar maksud Teh sendiri."
Perempuan itu menunduk sesaat.
Lalu untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ia terlihat rapuh.
"Bertahun-tahun saya bertemu banyak orang," katanya pelan. "Mereka datang karena menginginkan sesuatu dari saya. Setelah selesai, mereka pergi. Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana hidup saya."
Ia berhenti sejenak.
"Saya lupa rasanya dianggap sebagai manusia. Bukan sekadar seseorang yang dicari saat malam lalu dilupakan saat pagi."
Aku mulai memahami arah pembicaraan itu.
Pertanyaan yang diajukan Meri ternyata bukan tentang kecantikan atau hasrat.
Ia sedang bertanya apakah masih ada seseorang yang mampu melihat dirinya sebagai seorang perempuan biasa.
Seorang ibu.
Seorang manusia.
Bukan sekadar bayangan yang hidup di antara lampu-lampu remang kota.
Malam itu, berjam-jam kami hanya berbicara.
Tentang anaknya yang bercita-cita menjadi guru.
Tentang ibunya yang sudah lama meninggal.
Tentang masa muda yang dulu dipenuhi mimpi-mimpi sederhana.
Sesekali ia tertawa.
Sesekali matanya berkaca-kaca.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sisi Meri yang selama ini tersembunyi di balik senyum dan penampilannya.
Menjelang tengah malam, ia berdiri di dekat jendela.
Memandangi lampu-lampu kota yang berkelip dari kejauhan.
"Aa tahu?" katanya tanpa menoleh.
"Apa?"
"Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang."
"Lalu apa?"
Meri tersenyum kecil.
"Seseorang yang mau mendengar."
Aku terdiam.
Di luar, malam terus berjalan.
Dan tanpa kusadari, kisah Meri perlahan berubah dari sekadar cerita tentang kerasnya kehidupan menjadi cerita tentang kesepian yang terlalu lama dipendam sendirian.
(Bersambung...)

Posting Komentar