Balada Wartawan Ditengah Pusaran Kebutuhan Jelang Hari Raya
Wartawan berwajah melas itu menghela napas panjang. Dari satu gedung 'Kantor Berita' ke 'Kantor Berita' lainnya, ia melangkah, menggenggam setumpuk proposal iklan yang mulai lecek. Di wajahnya, sisa-sisa keringat dari 'bouncing' yang terlalu bersemangat tadi masih terlihat, tapi kini berganti dengan kepasrahan seorang 'undertaker' yang kehabisan peti mati.
Di salah satu kantor, seorang editor dengan topi pet bertuliskan 'DEADLINES' menatapnya tajam. 'Iklan? Hari gini? Kamu pikir kita koran opini tahun 30-an?' ujarnya pedas. 'Kita butuh berita yang hot, bukan ucapan selamat yang basi!'
Wartawan itu hanya bisa tersenyum kecut. 'Tapi Pak, ini iklan ucapan selamat Lebaran. Kan sebentar lagi...'
Editor itu mendengus. 'Lebaran? Kamu lihat kalender nggak? Masih sebulan lagi! Lagian, siapa yang butuh iklan ucapan selamat di tengah berita korupsi dan politik yang lagi panas-panasnya ini?'
Wartawan itu terdiam. Ia menatap tumpukan proposal di tangannya. Ternyata, mencari THR di dunia jurnalistik itu lebih sulit daripada menemukan kebenaran di tengah tumpukan hoaks. Ia pun melangkah pergi, dengan harapan yang kian menipis, seperti dompetnya di akhir bulan.

Posting Komentar