Siswa SDN 2 Muara Ciujung Timur Meninggal Dunia, Pengamat Soroti Lambannya Respon Fogging DBD
LEBAK, BeritaKilat.com — Duka mendalam menyelimuti Keluarga Besar SDN 2 Muara Ciujung Timur atas berpulangnya salah satu siswinya, Ananda Adifta Nur Amelia dari Kelas 2B. Peristiwa duka ini kembali memicu sorotan tajam masyarakat terhadap penanganan serta langkah pencegahan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan pemukiman dan sekolah.
Menanggapi kejadian tersebut, Pengamat Kebijakan Publik dan Lingkungan, Aryo Lukito, menyayangkan pola penanganan penyakit menular yang dinilai masih bersifat reaktif ketimbang antisipatif. Menurutnya, pemerintah daerah dan dinas terkait seharusnya bertindak cepat tanpa harus menunggu adanya jatuh korban jiwa.
"Mengapa untuk melakukan fogging atau pengasapan harus menunggu ada korban yang meninggal dunia terlebih dahulu? Ini menunjukkan lemahnya kepekaan dan pencegahan dini. Seharusnya daerah-daerah atau lingkungan rawan DBD langsung dipetakan dan disemprot secara berkala sebelum jatuh korban," tegas Aryo Lukito.
Aryo menambahkan bahwa mitigasi risiko kesehatan masyarakat, khususnya bagi anak-anak di lingkungan sekolah dan pemukiman padat, harus menjadi prioritas utama. Pelaksanaan fogging serta Pembasmian Sarang Nyamuk (PSN) seharusnya rutin dilakukan menjelang dan selama musim pancaroba tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
Keluarga besar sekolah, para guru, dan teman-teman almarhumah menyampaikan ucapan duka cita mendalam serta mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini. Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang dan dinas kesehatan segera melakukan langkah nyata di wilayah rawan DBD. (AL)

Posting Komentar